Jumat, 12 Desember 2008

NIETZSCHE (1844-1900): Membunuh Tuhan, lalu Gila dan Mati dalam Kesengsaraan


Oleh Suhening Sutardi (08158871863, Email: heningsutardi@gmail.com)


Inilah paradoks filsafat. Karya-karya Friedrich Wilhelm Nietzche kelahiran 15-10-1844 bagi kebanyakan orang tidak memberikan manfaat praktis. Bahkan sangat boleh jadi hanya akan mengacaukan akal dan iman. Nietzche sendiri babak belur dengan pergulatan batin dan pikirannya. Sang bunda sudah mengingatkan dari awal agar Nietzsche berserah diri kepada Tuhan, sabar dan tawakal menjalani penderitaan hidup seperti apapun keadaannya. Namun Nietzsche justru menjauh dari Tuhan, malah menyebutnya Tuhan sudah mati. Penderitaan demi penderitaan pun datang silih berganti. Mulai macam-macam penyakit, patah hati ditolak sang wanita pujaan dan merasa diri paling benar lantas membuatnya gila hingga merenggut nyawanya tengah kesepian nan panjang.


Merasa Paling Hebat

Tragis dan ironis. Namun Nietzche tetap berbangga diri dan meramalkan namanya akan terus berkibar sepanjang masa. “Sudah takdirku menjadi manusia paling hebat. Mari kita anggap, orang-orang tetap diizinkan membaca karyaku sekitar tahun 2000. Seseorang yang memiliki karyaku merupakan anugerah pada dirinya,” tegas Nietzsche pada musim gugur 1888.

Panggung sejarah filsafat memang mencatat nama Nietzsche dan karyanya terus dibicarakan. Nietzsche dijuluki sebagai filsuf algojo kematian Tuhan. Dia memilih jadi atheis militan. Padahal latar belakang keluarganya tergolong penganut kristen yang taat, bahkan jadi pemuka agama.

Ayahnya, Karl Ludwig Nietzsche (1756-1862) adalah seorang pendeta. Begitu pula kedua kakeknya, Friedrich August Ludwig (1826-1897) dari pihak ayah maupun kakeknya David Ernst Oehler dari pihak ibu juga pendeta terhormat. Namun bila iman adalah hidayah dari Tuhan, seorang anak nabi pun belum tentu mempercayai Tuhan. Sejarah nabi-nabi memperlihatkan, Nabi Nuh hanya bila mengelus dada ketika anaknya menolak untuk beriman kepada Tuhan.

Nietzsche memilih jalannya sendiri yang sangat bertolak belakang dengan keyakinan Kristen yang dianut keluarga besarnya. Kata Nietzsche, “Bagiku Kristianitas adalah korupsi terbesar yang bisa dipikirkan manusia. Aku sebut Kristianitas salah satu kutukan terbesar, kebejatan moral terbesar. Seseorang sebaiknya memakai sarung tangan ketika membaca Perjanjian Baru.Segala isinya pengecut, semuanya penipuan diri dan menutup mata orang pada dirinya sendiri.”

Tidak ada penghargaan Nietzsche pada agama Kristen. Militansinya menyerang kepercayaan kepada Tuhan sangat berlebihan dan memang inilah kekuatan Nietzsche. Dalam bukunya yang sangat terkenal, “Also Sprach Zarathustra”, Nietzsche berkali-kali menegaskan Tuhan sudah mati.


Penuh Derita, Gila dan Kesepian

Tampaknya penderitaan batin Nietzsche di masa kecil sangat mempengaruhi pergulatan batinnya. Pada 1849 saat usia Nietzsche baru 4 tahun, ayahnya meninggal dunia. Setahun kemudian, Joseph adik lelakinya juga meninggal. Franziska Oehler (1826-1897), ibu Nietzsche kemudian memilih pulang kampung. Nietzsche dibesarkan dengan dikelilingi para perempuan, mulai dari ibu, dua kakak perempuan, dua tante dan tentu saja neneknya.

Penderitaan batin tidak diakhirinya dengan berserah diri kepada Tuhan. Pada 1865 Nietszsche mengumukan dirinya sebagai pemikir bebas. Memang karir mengajarnya di Universitas Basel maju pesat. Namun seiring dengan itu kesehatannya berangsur-angsur merosot. Pada 1870 dia terserang penyakit disentri dan difteria. Lima tahun kemudian, 1875 Nietzsche sering menggelepar-gelepar terserang sakit kepala. Keadaan bertambah parah, ketika 1879 Nietzsche mengidap sakit mata, rabun dan setengah buta. Pada tahun itu Nietszche harus berhenti mengajar karena fisiknya tak memadai lagi tampil di depan para mahasiswa.

Penderitaan Nietzsche tidak sebatas itu. Dalam masalah asmara, Nietzsche juga berkali-kali patah hati karena perempuan pujaan menolak cintanya. Seperti dicatat Alain de Botton, soal penampilan jadi penghambat utama. Nietzsche memelihara kumis luar biasa tebal, bersikap malu-malu dan kaku. Pada 1876 misalnya, Nietzsche mencintai Mathilde Trampedach. Namun perempuan cantik berusia duapuluh tiga tahun menolak cinta Nietzsche tanpa alasan yang jelas. Paling konyol lagi dia mencintai Cosima, istri sahabatnya sendiri, Richard Wagner. Nietzsche memendam rasa cinta itu di balik kedok persahabatan yang tulus. Sampai suatu ketika Januari 1879 di tengah-tengah depresinya yang luar biasa Nietzsche mengirim kartu pos dengan nama samaran Dionysius kepada Cosima. Tulisnya, “Aku sangat mencintaimu.” Tentu saja cinta Nietzsche bertepuk sebelah tangan.

Selanjutnya pada 1882, Nietzsche berhadap dapat diterima oleh seorang perempuan yang dicintanya dan bisa menikah. Dia menjalin hubungan dengan seorang gadis berusia duapuluh satu tahun yang terpesona pada karya-karya Nietzsche. Perempuan bernama Lou Andreas-Salou tampak membuat hati Nietzsche berbunga-bunga. Dia mau diajak berlibur dua minggu di kawasan wisata hutan Tautenburg, Lucerne. Namun ketika Nietzsche mengatakan ingin menikahi Lou, jawaban yang diperoleh sangat menyakitkan. Lou hanya mengagumi filsafat Nietzsche, bukan untuk mencintai, apalagi menikah dengan sang filsuf.

Dunia seolah menyatakan Nietzsche layak menerima semua itu akibat pengingkarannya pada Tuhan. Dan Nietzsche memang tidak pernah mau meminta pertolongan Tuhan. Nietzsche bangga dengan filsafatnya sendiri. Namun hasil penjualan buku filsafat Nietzsche tidaklah menggembirakan. Sang filsuf juga mengalami kesulitan ekonomi. Dia tak mampu lagi beli baju baru. Ia tinggal di kamar kontrakan paling murah, itu pun sering terlambat bayar, tak bisa beli daging dan sosis kesukaannya. “Aku terabaikan bagai domba gunung,” keluhnya.

Sekiranya Nietzsche bertobat, kembali beriman kepada Tuhan dan berserah diri, mungkin tragedi tidak bertambah-tambah. Dengan rasa patah hati mendalam, Nietzsche semakin geram pada kehidupan. Pada Januari 1889, Nietzsche tak sanggup lagi menanggung beban penderitaan hidup sendirian. Nietzsche resmi dinyatakan gila. Dia berteriak-teriak menyerupai tokoh gila yang ditulis dalam bukunya. Aura negatif dari tokoh gila merajam sang penulisnya sendiri.

Sangat tragis. Anak pendeta itu jadi pesakitan rumah sakit jiwa. Nietzsche kemudian diikat, dinaikkan kereta api dari Turin menuju rumah sakit di Namburg agar dapat diawasi oleh ibunya yang tua renta dan kakak-kakak perempuannya. Sang profesor arheis didera kesepian panjang. Ibunya sangat sedih menyaksikan si anak sakit jiwa. Pada 1897, si ibu meninggal dalam usia 71 tahun. Sedangkan si anak meninggal tiga tahun kemudian, pada 1900 dalam usia 56 tahun.

Filsuf Nietzsche mengakhiri lakon kehidupan yang memilukan, tragis sekaligus ironis. Ajaran dan tragedi kehidupannya menjadi cermin tentang nasib filsuf atheis militan. Betapa klaim kehebatannya sangat terbatas, bahkan hanya menjadikan dirinya gila hingga nafas terakhirnya. Virus dan aura negatif kegilaan Nietszche masih terus melekat dalam karya-karya filsafatnya hingga akhir zaman. Sikapi ajaran filsafat Nietzsche dengan penuh seksama, berhati-hati dan jangan sampai masuk perangkap tragedi kehidupannya.

(***)

4 komentar:

odon29 mengatakan...

ulasan yg lumayan objektif, namun sedikit menyudutkan terhadap sosok nietzsche.

sy jd ingat saat pertama bc karyanya yg pertama (the birth of tragedy), sy menyimpulkan bahwa nietzsche seorang yg apatis & skeptis, namun setelah sy lahap habis karya2nya, sy bs lebih objektif menilai, baik terhadap karya2nya maupun sosok nietzsche sendiri.

sy masih ingat kalimat terakhir di buku terakhirnya (ece homo), "aku adalah yang tersalib melawan dyonisius".

jd siapakah friedrich nietzsche?
manusia atau tuhankah???

thx.
sribadugha@yahoo.co.id

Dr. Handoko Hardianto P., SpKJ, M.Sc mengatakan...

Trimakasih untuk sribaguga@yahoo.co.id atas kunjungan ke aura tokoh. Ya, mungkin sedikit menyudutkan, namun untuk tujuan positif agar ada keseimbangan dalam mengapresiasi filsafat Nietzsche. Bagaimanapun naluri terdalam Nietzsche tak pernah henti mencari tuhannya. Namun tuhan yang ditemukan sudah mati. Akal pikiran manusia yang terbatas tidak akan pernah sampai tuntas memikirkan yang tak terbatas. Pada akhirnya pencarian akal terhadap yang tak terbatas akan damai berlabuh pada kekuatan spiritual di luar dirinya. Sekali lagi terima kasih untuk pertukaran apresiasinya.

Andhika Aryatama mengatakan...

Memang itu jalan hidup yang Nietzsche sendiri menemukan pardoksalitas dalam hidup antara subyek dengan obyek, antara kedamaian dengan kebenaran. Bagi Nietzsche, kebenaran pasti pahit, sehingga yang ia temui hanya kesalahan dan kesalahan tiada berujung, kesalahan itu ditimbulkan oleh optimisme akal dan metafisika manusia sendiri yang tiada berhenti mewujudkan tujuan, selalu kembali ke tujuan awal menciptakan tujuan baru (eternal recurrence) dengan terus-menerus menciptakan Tuhan dan mengabaikan eksistensi manusia yang selalu pahit dalam menggenggam kebenaran. Makanya dia berkata:

"Jika anda ingin mencari kedamaian jiwa, percayalah! Jika anda ingin menjadi murid kebenaran, carilah!"

Maksud Nietzsche, jika kita cukup untuk hidup memuaskan diri, maka percayalah pada segala bentuk kemapanan yang menjamin kebenaran (agama, ilmu pengetahuan, filsafat, seni, dll). Sebaliknya, jika kita hendak mencari kebenaran, maka carilah, bukan percayalah. Itulah sebabnya dia menderita, karena dia menolak "percaya", baginya percaya hanya omong-kosong yang mengabaikan eksistensi manusia dalam menciptakan kebenaran esensial.

Biar bagaimanapun, kita jangan memahami filosofi Nietzsche secara tekstual. Apalagi Nietzsche tidak sungguh-sungguh mengobarkan semangat atheisme, walau filsafatnya cenderung atheistik. Bagi Nietzsche, Tuhan yang didengung-dengungkan manusia hanyalah sejumput noda dalam alam pikiran manusia itu sendiri. Kritiknya terhadap kebudayaan Kristen Eropa pun tidak banyak menyinggung soal doktrin, melainkan soal eksistensi Kekristenan yang begitu yakin membangun kemajuan bagi peradaban Barat. Menariknya, Nietzsche justru mengumandangkan perang terhadap Roma (Katholik) dan damai terhadap Islam.

Well, CMIIW.

Korelasi Positif mengatakan...

nietzsche mungkin memilih gila untuk mencapai kebebasan